MALAM BERCENGKRAMA

Oleh: Laura Ayu Larasati

Malam ini mungkin untuk sebagian orang merasakan kedinginan, tetapi menurutku tidak. Berbeda dengan malam-malamku sebelumnya, malam ini begitu terasa hangat. Banyak bunyi-bunyi yang menghangatkan kamar kosku. Bisa jadi tetanggaku merasa jengkel dengan suara-suara dari kamarku.

Hari ini Vira pulang lebih awal. Biasanya di hari Minggu seperti ini ia pulang sekitar pukul 16.00 WIB, tetapi hari ini ia sudah pulang pukul 15 WIB. Kukira ia memang sudah pulang, tetapi begitu ia masuk ke kamar, ia hanya mengambil helm dan kemudian pergi dengan temannya.

Memang, setiap hari Minggu ia selalu pergi keluar. Terkadang ia pergi  ke pasar, menonton film, dan terkadang ia pergi ke tempat wisata bersama dengan teman-temannya. Biasanya kalau aku tidak pergi ke rumah tanteku aku selalu diajak keluar juga.

Tak lama kemudian, Vira kembali ke kos. Ternyata ia pergi ke pasar untuk berbelanja.

“Hari ini aku mau belajar memasak.” Tuturnya padaku.

Aku terkejut mendengarnya. Seorang Vira bisa terpikirkan untuk memiliki niat belajar memasak. Itu adalah hal yang luar biasa.

“Tumben, ada angin apa ini kamu mau memasak?” Candaku.

Sebelumnya Vira tak pernah memasak, karena ia tidak bisa memasak. Ia juga mengakuinya. Kalaupun ia memasak, sekedar memasak air saja untuk dibuat kopi ataupun susu.

“Kamu ini, Lan. Temannya mau belajar masak kok malah ditanya seperti itu?”

“Hehe. Bercanda, Vir. Memangnya kamu mau masak apa?”

Vira menunjukkan bahan-bahan masaknya yang ia beli tadi di pasar.

“Entahlah. Kita coba untuk mix and match saja nanti. Akan tetapi kamu ajari aku ya, Lan? Nanti kamu bisa mencicipi hasil masakanku.”

Aku mengiyakan pertanyaan Vira. Awalnya aku merasa ragu ketika hendak mencicipi masakannya Vira. Tetapi setelah aku mencicipi ternyata masakannya enak juga. Yaa, untuk kalangan pemula dia cukup handal bagiku.

Setelah itu, kami makan malam bersama. Sebelum ia melahap makanannya itu, ia memotret masakannya dan ia bagikan fotonya ke temannya. Tak lama temannya membalas bahwa temannya yang bernama Sonia itu ingin mencicipi masakan Vira. Mungkin Sonia merasakan hal yang sama dengan aku. Benar, Sonia merasa heran mengapa Vira tiba-tiba ingin memasak.

“Kamu masak apa itu, Vir?” Tanya Sonia lewat whatsapp.

“Kalau kamu mau tahu datang saja ke sini.” Balas Vira.

“Aku masih di rumah saudaraku, Vir. Setelah ini aku ke kosmu deh.” Tutur Sonia. Kemudian Vira mengiyakannya.

Lima belas menit kemudian, Sonia datang. Langsung saja Vira menawarkan masakannya untu Sonia.

“Ini enak apa tidak? Kalau tidak enak aku tidak mau makan.” Kata Sonia yang membuatku tertawa.

“Sudah, makan saja dulu. Nanti kamu juga akan tahu hasilnya.” Ujar Vira.

Kemudian Sonia mulai mencicipi makanan yang ada di hadapannya itu. Vira bertanya bagaimana rasa dari masakannya menurut Sonia.

“Lumayan, Vir. Enak juga masakan kamu. Sering-sering lah masak seperti ini, supaya aku bisa mampir dan makan gratis di sini. Hahaha.”

Kami semua tertawa. Setelah menghabiskan makanannya, Sonia mulai bercerita tentang kejadian-kejadian di pekerjaannya kepadaku, di susul juga cerita dari Vira.

“Kemarin ada seorang ibu yang beli kue di toko kami. Setelah memilih kue kemudian si ibu ini menghampiri aku hendak membayar. Kamu tahu apa yang ibu itu katakan?”

“Apa, Son?”

“Mbak, saya ini temannya bos mbak lho. Apa gak ada diskon untuk teman? Saya juga langganan sini kok, saya juga sering beli di sini.” Ucap Sonia seraya menirukan gaya bicara seorang ibu yang sedang menawar itu.

“Terus terus, kamu jawab apa?”

“Ya aku jawab, maaf ya bu, bosnya lagi keluar. Saya tidak berani memberi diskon. Seperti itu, terus si ibu ini masih tetap saja mengatakan hal yang sama, dan aku juga menjawab dengan jawaban yang sama. Tak lama si ibu itu akhirnya menyerah dan mau membayar full.”

Aku tertawa mendengar cerita Sonia. Tidak hanya cerita tentang si ibu itu, Sonia menceritakan banyak sekali kejadian. Mulai dari pembeli yang cerewet minta dibuat seperti ini dan itu, si bapak-bapak yang minta bonus lilin dan pisau roti, anak sekolah dasar yang mau memesan kue ulang tahun untuk gurunya tetapi malah ribet sendiri, dan masih banyak yang lainnya lagi.

Sedangkan itu, Vira mulai angkat bicara mengenai teman kerjanya yang baru. Temannya ini masih muda, sekitar dua tahun dibawah umurnya.

“Son, kamu tahu Ela? Duhh anak itu sukanya buat jengkel saja. Setiap hari disuruh nyapu gak mau, pasti ada saja alasannya. Apalagi si Nia, dia kerjanya mondar-mandir saja. Pusing aku melihat mereka berdua.”

“Haha, sabar Vir. Ini cobaan.” Ucapku sambil tertawa.

“Cobaan sih cobaan, tapi ya gak begini juga. Pernah Ela aku marahi karena waktu yang lain sibuk, dia malah duduk manis sambil bermain ponselnya.”

“Iya, Vir betul. Kemarin saja Nia tidak mau melayani pembeli, ada pembeli datang gitu dia langsung ke belakang, pura-pura mengambil kue.” Tambah Sonia.

“Terus pernah juga dimarahi bos karena kerjanya lelet.” Ucap Vira lagi.

Bisa dibilang, mereka berdua ini adalah pegawai tertua di tempat kerja mereka. Oleh karena itu, si bos memberi mereka berdua hak jika ada pegawainya yang kurang bagus kerjanya bisa langsung di tegur.

Selain itu, mereka juga bercerita tentang bapak yang mengantar roti ke tokonya.

“Dulu pernah kejadian, Pak Muklis ini tidak mengantar roti ke toko. Padahal saat itu kami sedang menunggu kedatangan beliau lama sekali. Eh ternyata beliau ada di rumah. Lalu waktu aku disuruh bos untuk memberi tahu Pak Muklis membeli bahan kue ke pasar, beliau kembali dengan membawa bahan yang tidak sesuai dengan takaran yang seharusnya dibeli. Dia malah memintaku untuk mencatat bahwa beliau  meminjam uang toko untuk membeli rokok.” Cerita Sonia sebagai kasir toko ini membuat aku dan Vira tertawa.

“Terus apa yang kamu katakan ke Pak Muklis, Son?” tanya Vira.

“Ya aku bilang kalau mau memakai uang toko sebelumnya ya harus bilang dulu ke bos atau ke aku supaya gak bingung kalau misalnya uang yang sisa sama uang yang di nota itu beda.” Tutur Sonia yang sepertinya agak jengkel kepada Pak Muklis.

“Iya, Son. Pak Muklis memang seperti itu orangnya.” Tambah Vira.

Malam ini sungguh terasa hangat bagiku. Kami bercerita berjam-jam, sampai mataku mulai mengantuk dan terasa meminta untuk menutup. Tak terasa jam menunjukkan pukul 23.15 WIB, dan Sonia pun pamit pulang.

Aku senang bisa mendengar keluh kesah mereka seperti ini. Seperti sebuah hiburan tersendiri buatku. Semoga akan ada malam seperti malam ini di lain waktu.

sumber : http://penulis.ukm.um.ac.id/cerpen-malam-bercengkrama/#more-1542

2 replies on “MALAM BERCENGKRAMA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *