RANTAU

Oleh : Lisa Nur M.

Hai kawan, bisa luangkan waktu sejenak? Aku ingin cerita.

Kali ini tentang rantau.  Menurut kbbi,  rantau memiliki makna sebuah daerah diluar kampung halaman. Orang” sejak dulu,  baik dalam buku,  film,  dan cerita dari mulut ke mulut selalu bilang kalau rantau sama dengan mengadu nasib,  jauh dari keluarga,  jauh dari adat dan budaya asal.  Dan itu semua memang benar.  Ketika seseorang pergi meninggalkan kampung halaman demi mengetahui bagaimana nasib akan merubahnya,  bagaimana takdir akan hidupnya,  atau menemukan siapa dirinya maka petualangan telah dimulai.  Entah berbekal restu,  atau nekat. Entah ramai-ramai atau seorang diri.  Rantau tetaplah rantau. Asing.

Bukan semata mengejar materi,  banyak pula diantara pengadu nasib ini yang mencari ilmu. Sebut saja mahasiswa.  Disalah satu kota di provinsi jawa timur,  sebutlah Malang.  Disana banyak sekali para pengadu nasib yang mengisi lembar-lembar catatan kosongnya dengan informasi baru.  Memenuhi otak dengan berbagai teori dan konsep-konsep baru.  Mereka menyebutnya pengetahuan.  Para pengadu nasib ini rela meninggalkan keluarga, sanak family,  teman, bahkan cinta.  Demi ingin tau apakah jurusan yang dipilih sudah tepat atau tidak, sebagian lainnya ingin merasakan kebebasan,  banyak lagi yang lain mencari kertas” bertanda tangan orang penting.

Ketika mereka menyandang tas punggung atau menyeret koper yang beratnya sama atau melebihi 1 karung beras, bersama itu pula beban rindu,  dan titipan amanah mereka panggul juga. Dibalik keriangan menyambut hiruk pikuk kota pendidikan,  hati-hati mereka tersayat, sesak,  didera bayang-bayang ibu bapak.  Mereka pamit dengan hikmat,  memohon restu dan do’a.  Melangkah pergi untuk menjadi dewasa.

Rantau,  selalu menarik meski dengan 1000 problema yang pelik.  Entah soal tanggal tua,  entah soal ormawa,  entah soal cinta, entah soal dosen dan bimbingannya,  atau skripsi dengan semester gandanya.  Rantau, beruntunglah bagi mereka yang dewasa melalui jalur ini. Dibanting angkot,  dibakar panasnya aspal,  diuji janji-janji pertemuan dosen. Bersabarlah wahai makhluk rantau,  engkau tak sendiri, ada aku dan jutaan makhluk rantau lain yang sama-sama memikul beban dan amanah untuk segara kembali ke kampung halaman.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *